Bismillahirrahmanirrahim
Media televisi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan hidup manusia, yang (di Indonsia) sudah dikenal sejak 1960-an. Maju pesatnya dunia komunikasi dan teknologi informasi (IT) tak pelak mnjadikan produk yang menjadi alat berhubungan antar umat manusia pun ikut berkembang. Ketika dulu kita hanya menonton televisi yang disiarkan dengan sistm analog, kini telah berubah kesystem digital. Dari satu stasiun teve milik negara (TVRI), kini ikut bertumbuh teve-teve milik swasta atau pemda-pemda yang satu sama lain menjadikan kian maraknya dunia informasi dan hiburan ditengah-tengah kita.
Kemajuan yang sedmikian terbuka tentu saja akan melahirkan dampak-dampak sosial tersendiri, sebagai hal yang juga tak terelakan. Pola pergaulan hidup ditengah masyarakat, misalnya, ikut terimbas dengan fenomena hadirnya peralatan yang “memperpendek rentang jarak waktu” itu. Apa yg terjadi diluar negri sana, hanya dalam bilangan menit, kini telah dapat diketahui oleh orang lain dibelahan dunia yang berjauhan, yaitu berkat adanya siaran teve atau rilis melalui radio dan internet. Inilah realitas peradaban dunia yang tengah masuk ke ruang-ruang kehidupan kita.
BERFUNGSI DAKWAH
Adanya kemajuan dunia informasi dan komunikasi itu, tentu saja ikut melibatkan berkembangnya proses dakwah kita, kita sama tahu, semua siaran teve ada yang menyertakan konteks dakwah baik dalam bentuk ceramah agama, diskusi interaktif antara penyanyi dan penonton, bahkan kajian-kajian khusus dan khas yang disampaikan oleh juru dakwah terdepan. Ditambah lagi tayangan-tayangan lain yang bernuansa dakwah atau islami, termasuk acara kemanusiaan yang disisipi pesan dakwah. Yang paling minimal adalah penayangan adzan magrib untuk ibu kota dan sekitarnya.
Akan tetapi, tidak semua produk tayangan itu lalu dapat disebut aman, karena ada kenyataan pula hal-hal yang bersifat kontra dakwah pun sungguh tersuguhkan pula di media-media layar kaca kita itu. Hal-ihwal yang bernuansa tabarruj(pamer aurat) misalnya..ya… menjadikan media itu memiliki daya tarik tersendiri bagi pemirsanya baik dalam sisi tayangan maupun sang presenter yang ditugaskan oleh pihak management teve bersangkutan.
Belum lagi model acara yang mengundang syubhat lainnya sampai kepada tontonan yang berkisar di soal ghibah (pergunjingan) sampai kepada hal yang berkargori fitnah. Semuanya tersuguhkan ditelevisi, yang siapa pun dapat memirsanya tanpa mengenal batasan usia dan status sosial. Jam siar pun menjadi 24 jam untuk beberapa stasiun. Apalagi jika ada keluarga yang ikut teve berlangganan (Cable-TV) yang dapat menontonkan siaran televisi mancanegara.
Maka dalam kondisi yang serba terbuka, tentu persoalan jadi serba boleh (permissif), yang di sisi lain dalam konteks nilai religiusitas masyarakat kita memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi dalam soal hidup dan pergaulannya. Kita memilikin badan khusus yang menjadi pemantau siaran teve lokal, yaitu Komisi Penyiaran Indonsia (KPI) yang peran keberadaannya dalam beberapa kali cukup membantu masyarakat, khususnya dalam menilai kepatutan program tayang yang disuguhkan media televisi kita.
Tetapi jauh lebih penting adalah kembali kepada pihak statsiun teve itu sendiri, mereka yang paling pas dan relevan untuk memilih dan mnetapkan tayangan apa saja yang cocok untuk bangun masyarakat kita. Secara etika & moral kita tentu memiliki pakem-pakem kepatutan yang menjadi jati diri bangsa yang santun ini. Sementara, para orang tua merupakan pihak yang paling utama untuk menjadi pendamping dan pemantau anak dan keluarga dari memirsa tontonan yang berkepatutan.
MASA DEPAN GENERASI
Sensor untuk produksi tayangan yang akan disuguhkan menjadi tontonan oleh masyarakat adalah amat penting, agar apa-apa yang dilihat itu tidak menimbulkan pengaruh yang berdampak negatif bagi masyarakat, sebab sebagai media yang menjadi penyedia atau penyelenggara hiburan, dan menyampaikan berita atau informsi berbagai hal, televisi adalah berfungsi sebagai media edukasi bagi proses pencerdasan sekalian anak bangsa. Kita diingatkan oleh ayat yang satu ini : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS An-Nisaa 9)
Perlua ada konteks kebersamaan yang diikat oleh kesepahaman dalam mengkeasikan produk tontonan apa pun bentuknya agar apa yang bakal tersaji untuk dilihat khalayak adalah sesuatu yang bernuansa tuntunan. Maka sense of responsibility ( rasa tanggung jawab), sense of humanity (rasa kmanusiaan), sense of crisis (peduli keadaan yang krisis) adalah menjadi hal yang utama untuk kita kedpankan dalam membangun masyarakat bangsa ditengah situasi keterpurukannya ini. Media infokom masa tentulah menduduki peranan penting dan strategis didalamnya.
Proses kreativitas juga dibutuhkan oleh para pelaku, pekerja, dan pemerhati dakwah agar turut serta menyumbangkan model tontonan yang bernuansa pencerahan untuk membangun kecerdasan anak bangsa dengan pemilikan nilai luhur dan akhlaqul karimah. Jangan lagi ada siaran langsung (live event) seperti yang mempertontonkan persidangan kasus hukum mantan pejabat, dengan membeberkan cerita dan jalannya proses perselingkuhan secara detail, sampai kepada hal-hal yang tak patut didengar khalayak, yang sungguh-sungguh bukan konsumsi publik. Maksudnya mungkin menyiarkan betapa fairnya proses persidangan itu, sehingga terbuka untuk publik, tetapi ketika ada hal-hal yang tak pantas, tentulah menjadi persoalan tersendiri.
Fatt aqullah mastatha’tum
Ditulis oleh a21s
Ditulis oleh a21s
Ditulis oleh a21s 











